Warta Jemaat

Senin, 02 Maret 2009

SEORANG PENOLONG

Suatu kali melakukan penjelajahan, anda tertarik pada sebuah gua. Anda menelusuri terowongan dan jalan setapak selama berjam-jam hingga ke suatu tempat yang gelap dan asing. Bahkan teman-teman anda sudah mengira anda tersesat, hingga mereka mengirim seseorang untuk menolong anda. Itulah sebabnya tiba-tiba anda mendengar seseorang memanggil-manggil anda.
Penolong itu menyapa anda dan berkata, "Ikuti saya, saya tahu satu-satunya jalan keluar." Anda menyanggah,"Bagaimana mungkin hanya ada satu jalan? pasti ada jalan lain!" Penolong itu menjawab, "Saya sudah menjelajahi gua ini. Anda harus ikut saya atau anda tidak akan pernah dapat keluar." "Anda berpikiran sempit," sahut anda. "pergilah, saya akan mencarinya sendiri."
Hal tersebut diatas mungkin terdengar bodoh, tetapi seperti itu jugalah tanggapan sebagian orang saat anda mengatakan bahwa satu-satunya jalan menuju Surga adalah dengan percaya kepada Kristus. Anda berharap mereka akan berkata,"Wah! terima kasih atas kabar baiknya!" Namun sebaliknya, mungkin anda menerima reaksi seperti yang diterima penjelajah gua tersebut. "Pergilah, saya tidak akan percaya hanya ada satu jalan."
Seorang penolong mengasihi, mempedulikan dan berani berkorban untuk sesamanya. Rasul Paulus adalah seorang penolong yang dijebloskan kedalam penjara justru karena mewartakan kabar baik (KIS 16:23). Orang tidak terlalu mau menerima pertolongan kita dengan tangan terbuka, tetapi hal itu tidak boleh menghentikan usaha untuk menunjukkan jalan yang benar.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda