Warta Jemaat

Senin, 16 Februari 2009

TIDAK BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI

Salah satu novelis yang populer dan berpengaruh pernah melontarkan sebuah filosofi ateis yang menekankan cinta pada diri sendiri. Dalam salah satu novelnya seorang tokoh ciptaannya berkata, "Kata kita semestinya tidak perlu diucapkan. Aku melihat wajah seorang tuhan, dan aku menjunjung tuhanku ini diatas bumi,...yang akan memberi kebahagiaan, kedamaian, dan kebanggaan. Inilah Tuhanku; hanya satu kata: AKU".

Apakah untungnya egois tanpa mengasihi sesama seperti itu? Mungkin gaya hidup yang demikian dapat membawa kebanggaan. Apalagi menurut penulis novel tadi kebanggaan diri adalah segalanya. Namun, sampai saat ini kehidupan yang seperti itu tidak dapat membawa kebahagiaan ataupun kedamaian. Seorang penulis resensi buku berkomentar tentang novelis egois tadi demikian, "Kelihatannya ia seorang yang paling tidak bahagia didunia".
Firman Allah sangat bertentangan dengan filosofi hidup yang berpusat pada diri sendiri. Dalam Firman Allah itu terdapat prinsip yang dapat menuntun kita kepada hidup berkelimpahan, yakni bahwa kita harus mengasihi sesama seperti halnya kita mengasihi diri sendiri (Roma 13:9). Apa sajakah hal-hal positif yang akan kita rasakan dengan cara hidup seperti itu? "kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus"(14:17). Hidup penuh kasih-jelas lebih baik!

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda