Warta Jemaat

Senin, 16 Februari 2009

PERSAHABATAN

Kita membutuhkan setidaknya satu atau dua sahabat. Seorang anak laki-laki mendefinisikan sahabat sebagai "Seseorang yang tetap menyukai kita meski telah mngetahui segala sesuatu tentang diri kita". Sedangkan Ralph Waldo Emerson berkata, "seorang sahabat adalah salah satu karya agung dari alam". Henry Durbanville yang mengadakan pengamatan terhadap persahabatan berkata demikian, "Seorang sahabat adalah orang pertama yang menghampiri kita ketika seluruh dunia meninggalkan kita".
Amsal 17:17 Salomo mengungkapkan bahwa,"Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu". Kita tidak dapat menemukan definisi yang lebih baik dari itu. Mempunyai seorang sahabat yang selalu bersikap baik kepada kita dalam segala keadaan merupakan salah satu berkat yang paling berharga dalam kehidupan. Dukungan dan penguatan yang diberikan seorang sahabat akan terasa sangat dibutuhkan tatkala beban kehidupan yang berat menimpa kita. Yesus adalah sahabat yang terbaik, karena Dia telah memberikan nyawaNya untuk sahabat-sahabat-Nya(Yoh 15:13).
Amsal 18:24 mengemukakan pendapat penting dan memberikan gambaran tentang arti seorang sahabat. Ia berkata,"Seseorang yang ingin berteman harus memiliki sikap bersahabat", Maksudnya jelas: Persahabatan harus dimulai dari diri kita sendiri lebih dahulu. Kita harus berinisiatif untuk mengembangkan hubungan dengan orang lain. Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan, Jika anda ingin memiliki seorang sahabat, maka anda harus terlebih dahulu menjadi seorang sahabat!

TIDAK BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI

Salah satu novelis yang populer dan berpengaruh pernah melontarkan sebuah filosofi ateis yang menekankan cinta pada diri sendiri. Dalam salah satu novelnya seorang tokoh ciptaannya berkata, "Kata kita semestinya tidak perlu diucapkan. Aku melihat wajah seorang tuhan, dan aku menjunjung tuhanku ini diatas bumi,...yang akan memberi kebahagiaan, kedamaian, dan kebanggaan. Inilah Tuhanku; hanya satu kata: AKU".

Apakah untungnya egois tanpa mengasihi sesama seperti itu? Mungkin gaya hidup yang demikian dapat membawa kebanggaan. Apalagi menurut penulis novel tadi kebanggaan diri adalah segalanya. Namun, sampai saat ini kehidupan yang seperti itu tidak dapat membawa kebahagiaan ataupun kedamaian. Seorang penulis resensi buku berkomentar tentang novelis egois tadi demikian, "Kelihatannya ia seorang yang paling tidak bahagia didunia".
Firman Allah sangat bertentangan dengan filosofi hidup yang berpusat pada diri sendiri. Dalam Firman Allah itu terdapat prinsip yang dapat menuntun kita kepada hidup berkelimpahan, yakni bahwa kita harus mengasihi sesama seperti halnya kita mengasihi diri sendiri (Roma 13:9). Apa sajakah hal-hal positif yang akan kita rasakan dengan cara hidup seperti itu? "kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus"(14:17). Hidup penuh kasih-jelas lebih baik!

KEBAIKAN DAN BELAS KASIHAN

Raja Abdullah menjadi raja Yordania sejak tahun 1999, terkenal sering menyamar dan pergi ketempat-tempat umum. Tujuannya ialah berbicara dengan rakyat jelata dan mencari tahu apa yang sedang mereka pikirkan dan menyelidiki bagaimana para pegawai pemerintah memperlakukan rakyatnya. Ia telah mengunjungi rumah sakit dan kantor-kantor pemerintah untuk melihat bagaimana mereka melayani rakyatnya.
Raja mendapatkan ide ini ketika berada di New York. Waktu itu ia tidak dapat meninggalkan hotel tanpa dikerumuni orang, jadi ia keluar dengan menyamar. Ternyata berhasil. Selanjutnya ia mencoba melakukan hal yang sama dikerajaannya sendiri. Ia menyatakan bahwa tak lama setelah peyamaran itu dilakukan, para pegawai pemerintah dan rumah sakit memperlakukan setiap orang seperti seorang raja.
Kelak tatkala Yesus datang sebagai Raja, Dia akan menghakimi bangsa-bangsa(Mat 25:31-46). Dia berkata bahwa yang menjadi dasar penghakiman adalah tanggapan seseorang ketika Dia lapar, haus, menjadi orang asing, telanjang, sakit atau dipenjara. Mereka yang diadili akan bertanya kapan mereka melihat Dia dalam situasi-situasi seperti itu, dan Yesus menjawab, "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukan untun Aku".(ayat 40).
Karena manusia diciptakan menurut gambar Allah, dan karena Yesus melalui Firman dan teladan-Nya mengajarkan bahwa Dia sangat memperhatikan perlakuan kita terhadap orang lain, maka kita harus memperlakukan semua orang dengan kebaikkan dan belas kasihan. Perlakukanlah mereka seperti raja.

KUASA ALLAH YANG PALING BESAR

Seorang ibu muda meminta tolong utusan injil yang bernama Gale Fields, "Cepat kemari! Anak saya hampir mati". Waktu itu, Gale sedang berada di Irian jaya membantu suaminya, Phil, menerjemahkan Alkitab kedalam bahasa Orya, bahasa suku setempat. Disamping itu, pasangan tersebut juga memberikan pertolongan medis semampu mereka. Namun saat Gale memandang bayi yang terserang malaria itu, ia sadar tidak mempunyai obat yang tepat untuk menolongnya.
"Maafkan saya", kata Gale, "Saya tidak punya obat yang cocok untuk bayi sekecil dia". Setelah diam sejenak, Gale melanjutkan,"Tetapi saya bisa berdoa untuknya".
"Ya lakukan apa saja yang bisa menolong bayi saya". jawab sang ibu. Gale mendoakan bayi tersebut dan pulang dengan hati sedih. Sesaat kemudian, ibu muda itu datang lagi dan berteriak, "Gale, kemarilah! lihat bayi saya!"
Karena mengira sesuatu yang buruk telah terjadi, Gale segera menghampiri bayi itu. Namun ternyata ia melihat adanya kemajuan. Demam yang berbahaya itu telah berlalu. Kemudian Gale berkata, "tak heran orang-orang Kristen Orya belajar berdoa. Mereka tahu Allah akan menjawab setiap doa mereka".
Orang Kristen mula-mula pernah berdoa agar Petrus dibebaskan dari penjara. Namun ketika Allah menjawab, mereka malah "Tercengang-cengang"(Kis 12:16). Seringkali kita juga bersikap demikian. Seharusnya kita tidak perlu terkejut ketika Allah menjawab doa-doa kita, karena kuasaNya sungguh besar dan tak terbatas.

MEMULIAKAN NAMA TUHAN

Rasul Paulus berkata bahwa ia lebih baik mati daripada dianggap melayani Tuhan karena uang. Itu sebabnya ia bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sendiri tatkala memberitakan Injil di Korintus.
Baginya, segala sesuatu yang merusak kesaksiannya bagi Kristus lebih buruk daripada kamatian.
Selama berabad-abad, banyak orang berkeyakinan sama seperti Rasul Paulus dan membuktikannya dengan bersedia mati sebagai martir daripada menyangkal Tuhan. Kebanyakan dari kita memang tidak menghadapi ultimatum "Sangkal Kristus atau mati", namun gaya hidup kita harus mencerminkan bahwa ada beberapa hal yang kita anggap lebih buruk daripada kematian.
Pada malam tahun baru 1951, saya sangat terkesan ketika membaca pernyataan Paulus dalam Filipi 1:20. Ia mengatakan bahwa pengharapannya yang utama adalah ia tidak akan beroleh malu dalam segala hal. Ia tidak berharap dibebaskan dari penjara. Sebaliknya ia berharap agar Kristus dimuliakan didalam tubuhnya,"baik oleh hidupku, maupun oleh matiku". Saya juga terkesan pada pernyataannya yang penuh keyakinan dalam ayat 21,"karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan". Sejak malam itu, telah berulangkali saya mengatakan kepada Tuhan bahwa saya lebih baik mati daripada melakukan sesuatu yang mencemarkan nama Tuhan, menghancurkan hati istri dan keluarga saya, atau mengecewakan orang-orang yang menghormati saya.
Memang ada beberapa hal yang lebih buruk daripada kematian. Salah satunya adalah MENCEMARKAN NAMA KRISTUS.

Minggu, 15 Februari 2009

HIDUP YANG KUDUS

Billy Graham bercerita tentang pertobatan yang dialami oleh H.C. Morrison, pendiri dari Asbury Theological Seminary. Ia mengungkapkan bahwa pada suatu hari, Morrison, yang pada waktu itu bekerja di tanah pertanian, sedang membajak sawah. Tiba-tiba ia melihat seorang pendeta Metodis yang sudah tua lewat dengan kudanya.
Morrison mengenal orang itu sebagai orang yang ramah dan saleh. Ketika melihat orang tua tersebut lewat pada hari itu, ia seperti disadarkan akan dosanya yang sangat besar hingga ia jatuh berlutut. Diantara pematang-pematang sawahnya, ia menyerahkan hidupnya kepada Allah.
Ketika mengakhiri kisah nyata itu, Billy Graham berdoa dengan sungguh-sungguh, "Ya Allah, jadikanlah aku orang kudus seperti itu".
Agustinus berkata,"Anda ingin menjadi kudus? Kalau begitu, praktekkanlah mulai sekarang". Kekudusan yang sejati dan abadi berasal dari siapa diri kita. Meski tidak melakukan apapun, kita tetap dapat memberi hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain apabila kehidupan kita dibentuk oleh kasih karunia Allah. Bahkan tatkala kita tersisih karena usia tua, penyakit atau keadaan, kita tetap bisa berbuah. Entahkah anda tengah berbaring ditempat tidur atau terkurung didalam rumah, hidup anda yang kudus tetap dapat menjadi kesaksian yang baik.
Ini hanya bisa terjadi jika kita memiliki hubungan yang dekat dengan Yesus (Yoh 15:1-11. Pada saat itulah kita akan menghasilkan buah yang "tetap" (ayat 16).