Warta Jemaat

Senin, 09 Februari 2009

KITAB YANG DIILHAMI ALLAH

Sebuah iklan yang muncul dimajalah Outside, yang terbit pada bulan Juni 1998, menampilkan foto tiga orang nelayan. Dibawah foto tersebut terdapat tulisan berikut ini:"Air adalah gereja mereka, batu-batu adalah altar mereka, dan seekor ikan steelhead seberat 9 kg yang bergerak dengan cara misterius menjadi Tuhan yang mereka sembah."
Meski ungkapan diatas terlalu dibesar-besarkan, namun sebenarnya itu mewakili perasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh cukup banyak orang. Bagi para pecinta alam terbuka, alam dapat menggantikan posisi Allah. Mereka merasa tidak perlu beribadah dalam gedung gereja yang memang didirikan untuk tujuan religius. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak butuh membaca Alkitab, menaikkan puji-pujian, dan mendengarkan khotbah karena mereka juga dapat menyatakan rasa hormat karena mereka juga dapat menyatakan rasa hormat tatkala menanggapi keindahan dan keajaiban dunia ini.
Tentu saja kita boleh mengagumi karya Allah, seperti yang dilakukan penulis Mazmur 104 yang memuji sang pencipta akan kebijaksaan-Nya dan kuasa-Nya yang ditunjukkan disekitar kita. Namun akan sangat janggal bila kita memiliki hubungan yang dekat dengan benda-benda ciptaan, seperti ikan, bunga, awan, dan binatang, namun tidak terhadap Yesus, putra-Nya, yang disebutkan firmanNya. Tak satupun tempat dialam ini dimana kita bisa belajar tentang salib dan sang Juruselamat. Hanya melalui kitab yang diilhami oleh Allah-Alkitab-kita dapat mengenal dan menyembah Sang Pencipta dan Tuhan semesta alam.

SEBUAH KETENANGAN

Sebuah papan ditepi jalan bertuliskan: "Saya muak dengan persaingan hidup ini. Semakin banyak orang yang licik dan tidak setia." Tak perlu diragukan lagi, banyak teknologi, tingkat frustasi manusia tampaknya semakin tinggi dari sebelumnya. Sebenarnya, inti permasalahannya adalah karena sifat dosa manusia belum berubah.
Hampir 3,000 tahun yang lalu Salomo membuat tiga pernyataan tentang persaingan hidup pada zamannya. Pertama, ia mengatakan bahwa keinginan untuk menjadi lebih unggul dari orang lain adalah motivasi dibalik kerja keras manusia, dan dalam hal ini tidak ada seorangpun yang menang (Pengkotbah 4:4).
Kedua, Mereka yang menyerah dalam persaingan menjadi malas dan tidak produktif. Kemalasan semacam ini adalah tindakan yang bodoh dan merusak diri sendiri (ayat 5).
Ketiga, Salomo mengatakan bahwa banyak orang terlalu berobsesi mencari uang sehingga mengabaikan hubungan yang sehat dengan orang lain. Hal ini membuat mereka menjalani kehidupan tanpa arti dan tujuan serta tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka kerjakan (ayat 8).
Ingatlah, "Segenggam ketenangan lebih baik daripada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin". (ayat 6). Untuk menghindari ketamakan atau khayalan yang merusak diri sendiri, jadikanlah Allah sebagai pusat hidup anda dan bersyukurlah atas apa yang telah Dia berikan kepada anda. Dengan demikian anda akan berhasil dalam persaingan hidup ini

Kasih dan Pengampunan Allah

Pertama kali Sayo mendapatkan seekor anak anjing sangat manis bernama Dolly, Sayo selalu sering bermain dengannya di halaman belakang rumah. Kemudian ia mulai menggunakan kesempatan itu untuk menjelajahi tempat-tempat yang sesungguhnya tidak boleh ia datangi. Dengan memberinya hadiah, Sayo dapat mengajarinya untuk menanggapi perintahnya, "sini!" Namun kemudian hadiah-hadiah itupun tidak diacuhkan oleh Dolly. Karena itu, Sayo membeli sebuah rantai yang panjang sehingga Dolly tetap dapat merasakan cukup kebebasan yang aman. Namun bila ia berjalan terlalu jauh Sayo akan menarik tali kekangnya.
Hal ini mengingatkan Sayo akan perlakuan Allah terhadap seorang pecandu obat bius bernama Derek. Karena ingin menghentikan kecanduannya, ia tinggal dirumahnya, dan menjadi anak Allah. Ia pun dapat mengatasi kebiasaannya itu meski masih harus selalu berperang dengan godaan. Suatu hari ia menyerah, melarikan diri, dan menggunakan obat bius lagi. Namun perasaan bersalah meliputinya saat suatu ketika ia duduk dibangku taman. Ia merasa seperti Daud (MZM 31:23) dan berkata kepada dirinya sendiri, "Aku telah terbuang dari hadapan Tuhan. Tamatlah aku." Namun rantai panjang kasih Allah menarik kembali hatinya. Dengan segera Derek menanggapi pengampunan Tuhan dan kembali kepada kami (MZM 32:3-5)
Jika anda berjalan dijalan yang salah dan merasa terbuang dari Allah, ingatlah, Anda masih dapat kembali. Tanggapilah tarikan kasih pengampunanNya dihati anda dan kembalilah kepada-Nya sekarang juga.

MEMBERI HIDUP KITA

Sejarah sering dilukiskan sebagai suatu rangkaian malapetaka. Namun 7 jilid karya Thomas Cahill yang sudah dipersiapkan dengan cermat berjudul Hinges of History (poros sejarah) mencoba "menceritakan ulang kisah tentang para pemberi yang hebat dari dunia barat. bukunya yang ke-3 menceritakan tentang Yesus dari Nazaret yang oleh Cahill disebut "tokoh utama dalam peradaban dunia barat. "apakah Yesus memberi pengaruh besar didunia ? Kesimpulan Cahill adalah "YA!"
Selama ini mungkin kita berusaha memberi sebuah hadiah yang akan berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Namun seringkali hadiah-hadiah kita tidak cukup membawa pengaruh. Mengapa? Mungkin karena kita belum belajar tentang seni memberi dari Bapa Surgawi.
Dalam Yohanes 3:16 tertulis, "KArena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal." Ungkapan injil yang sederhana namun penuh kekuatan itu ingin mengatakan kepada kita bahwa karena kasihNya Allah memberikan diriNya sendiri. sebab itu tidaklah mengherankan bila kita berseru, "Syukur kepada Allah karena karuniaNya yang tak terkatakan itu!" (2korintus 9:15)
Apapun yang kita berikan, baik sebuah lukisan tangan atau masakan buatan sendiri, kita harus selalu turut memberikan diri kita bersama hadiah itu. Inilah semangat kasih yang mengandung kekuatan dan pengharapan yang dapat mengubahkan hidup seseorang. jika kali ini kita diawali dengan kasih dan kesediaan untuk memberi diri, maka hal ini akan membawa pengaruh dalam kehidupan orang lain.

BERSERAH KEPADA TUHAN

Dinas penerbangan telah membuat barang Debbie rusak. Bahkan dompetnya juga hilang. Ia keluar dari pesawat ditegah guyuran hujan tanpa berlindung melalui koridor. Ia basah kuyup, jauh dari rumah, tanpa uang, tanpa tanda bukti identitas, dan tanpa pakaian kering.
Dalam kondisi normal, Debbie pasti akan sangat marah, tetapi malam itu hal tersebut bukan masalah. Ia baru saja selamat dari tabrakan pesawat dengan nomor penerbangan 1420 di Little Rock, Arkansas. "Ketika keluar dari pesawat itu", Kata Debbie, "Saya tidak memikirkan apa-apa. Lalu saya berhenti dan berpikir, saya memiliki segalanya." Saat itu ia menyadari bahwa hidupnya jauh lebih penting daripada semua barangnya yang telah hilang.
Kadangkala kita perlu mengalami suatu peristiwa yang dramatis agar cara pandang kita berubah. Hal itu pernah terjadi pada Saulus yang berasal dari Tarsus. Ia telah bersusah payah mengejar reputasi demi "Kebenaran", lebih dari apapun didunia ini (Filipi 3:4-6). Namun, sejak bertemu dengan Kristus dalam perjalanan ke Damsyik (Kis 9:1-6), seluruh cara pandangnya berubah. Kemudian ia menulis,"Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus" (Filipi 3:7).
Dengan menyerahkan kepada Tuhan sikap memegahkan diri, merasa diri tidak membutuhkan orang lain, mungkin membuat kita merasa kehilangan segalanya. Namun hanya dengan demikian kita akan tahu bahwa memiliki kehidupan dalam Kristus berarti memiliki segalanya.